Home » , » SEJARAH MARICA & HADING HURI

SEJARAH MARICA & HADING HURI

Written By MARICA DESA KAYANG on Sabtu, 01 Februari 2014 | 11.51


   Sejarah Singkat Desa Kayang
Secara administrasi desa Kayang mulai terbentuk atau berdiri pada tahun 1971 yang merupakan gabungan dari beberapa dusun antara lain Marica, Kangge, Kawali, Darang dan lain-lain dengan ibukotanya Marica.
Asal mula diberi nama desa Kayang karena dahulu orang tua atau nenek moyang yang datang dari Flores dengan menggunakan perahu layar (Lambo atau Sampa Bajo) membawa Kajang (anyaman dari daun tembikar) dan disambut baik oleh penduduk kampung. Setelah itu Kajang (anyaman dari daun tembikar) itu dibentangkan dan mereka pun duduk
diatasnya. Singkat cerita  diatas Kajang (anyaman dari daun tembikar) itulah mereka mulai memberikan nama desa Kajang (Kayang). Sedangkan nama Marica diambil dari nama salah satu suku di desa Kayang yaitu suku Marisa.
Pada awal pembentukannya, sistem pemerintahan desa Kayang masih bersifat feodal yaitu langsung menunjuk salah satu dari masyarakat untuk menjadi kepala desa. Jauh sebelum adanya kepala desa, pada tahun 1905 – 1930 desa Kayang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Dewa Gorang. Kemudian pada tahun 1930 – 1971 diganti dengan istilah Tamukung. Ada dua Tamukung yang memerintah desa Kayang selama periode ini, yakni Tamukung Timu Gorang yang memerintah sejak tahun 1930 – 1940 dan Tamukung Sirang Timu Gorang yang memerintah tahun 1940 hingga terbentuknya desa Kayang pada tahun 1971.
Setelah terbentuknya desa Kayang, Sirang Timu Gorang kembali dipilih menjadi kepala desa Kayang. Dalam kepemimpinannya, Sirang Timu Gorang memimpin desa Kayang selama 6 tahun yaitu periode 1971 – 1977. Setelah sistem pemerintahan feodal, desa Kayang melaksanakan pemilihan kepala desa yaitu dipilih langsung oleh masyarakat. Adapun kepala desa yang memimpin desa Kayang antara lain yaitu :
a)      Sirang Timu Gorang yaitu periode tahun 1971 – 1977
b)      Hasan Karabi yaitu periode tahun 1977 – 1979
c)      Sirang Timu Gorang yaitu periode tahun 1979 – 1981
d)     Juel. K.Allung yaitu periode tahun 1981 – 1982
e)      Halim. ST. Gorang yaitu periode tahun 1982- 1997
f)       Lajamuddin Malik yaitu periode tahun 1997 – 2007
g)      Musa Hojang yaitu periode tahun 2007 sampai sekarang.
Pada tahun 2006, “Perda No. 15 Tahun 2006” Desa Kayang berpisah dengan Kecamatan Pantar Barat dan membentuk Kecamatan tersendiri yang diberi nama Kecamatan Pantar Barat Laut dengan ibukotanya Marica.
Kecamatan Pantar Barat Laut membawahi 7 (tujuh) desa yaitu Desa Kayang, Desa Marisa, Desa Alumang, Desa Lamma, Desa Beangonong, Desa Kalondama Barat dan Kalondama Tengah. Secara administrasi Desa Kayang yang merupakan ibukota kecamatan memiliki 2 Dusun, 4 RW, 8 RT dengan jumlah KK sebanyak 205.
2.      Keadaan Geografis, Batas, dan Luas Wilayah Desa Kayang
a.       Letak  Geografis
Desa Kayang berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Alor, Kecamatan Pantar Barat Laut. Desa Kayang merupakan wilayah desa pantai dan pegunungan.
b.      Luas Wilayah
Luas wilayah Desa Kayang adalah 9,47 KM². Desa Kayang terdiri dari wilayah daratan dan wilayah pegunungan.
c.       Batas Wilayah
Wilayah desa Kayang memiliki batas wilayah yang cukup jelas untuk diketahui yaitu sebagai berikut :
1)      Di bagian Barat berbatasan dengan desa Alumang
2)      Di bagian Timur berbatasan dengan desa Lamma
3)      Di bagian Utara berbatasan dengan desa Marisa dan selat Alor
4)      Di bagian Selatan berbatasan dengan desa Kalondama 1.
Daerah pantai yang merupakan dataran tersebut adalah tempat pemukiman masyarakat desa ini. Daerah-daerah lain dalam desa ini yang tidak dihuni dijadikan sebagai tempat perladangan.
3.      Keadaan Demografis Desa Kayang
Salah satu unsur dalam pembentukan suatu wilayah adalah penduduk, dimana melalui penduduk inilah segala proses aktivitas kehidupan di dalam wilayah itu bisa berjalan.
Berdasarkan  hasil data penelitian jumlah penduduk yang mendiami wilayah desa Kayang berjumlah 740 jiwa, yang terdiri dari 360 jiwa laki-laki dan 380 jiwa perempuan.
Untuk mengetahui keadaan penduduk wilayah desa Kayang, lebih jelas dapat dilihat pada uraian sebagai berikut :
a.      Keadaan Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Umur dan Jenis Kelamin
Keadaan penduduk di desa Kayang berdasarkan tingkat umur dan jenis kelamin berjumlah 740 jiwa atau  205 KK dengan perincian jumlah laki-laki sebanyak 360 jiwa dan perempuan sebanyak 380 jiwa.
Untuk lebih jelasnya keadaan penduduk berdasakan tingkat umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1
Keadaan Penduduk Desa Kayang Berdasarkan Tingkat Umur
dan Jenis Kelamin
No
Kelompok Umur (Tahun)
Jenis Kelamin
Jumlah
(Jiwa)
Laki-Laki
(Jiwa)
Perempuan
(Jiwa)
1
0 – 5
60
63
123
2
6 – 12
74
81
155
3
13 – 16
42
44
86
4
17 – 25
56
58
114
5
26 – 55
73
78
151
6
55 tahun ke atas
55
56
111
Jumlah
360
380
740
Sumber : Profil desa Kayang tahun 2012
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penduduk desa Kayang berjumlah 740 jiwa tersebut memiliki kelompok umur yang berbeda-beda yaitu mulai dari kelompok umur 0-5 tahun sampai 55 tahun ke atas.
Dari tabel di atas terlihat kelompok umur yang paling banyak yakni kelompok umur 6-12 tahun yakni sebanyak 155 jiwa dan kelompok umur yang paling sedikit yaitu kelompok umur 13-16 tahun yaitu 86 jiwa.
b.      Keadaan Penduduk Desa Kayang Berdasarkan Mata Pencaharian
Penduduk desa Kayang pada umumnya hidup dari bertani atau bercocok tanam sebagai penunjang hidup utama, disamping mata pencaharian yang lain seperti nelayan, beternak dan sebagainya. Hasil utama dari pertanian adalah jagung, ubi-ubian dan sebagainya.
Untuk mengetahui keadaan penduduk desa Kayang berdasarkan mata pencaharian lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2
Keadaan Penduduk Desa Kayang Berdasarkan Mata Pencaharian
No
Mata Pencaharian
Jumlah (Orang)
1
2
3
4
5
6
Petani
Nelayan
Wiraswasta / Pedagang
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Pensiunan PNS/TNI/POLRI
Buruh/Tukang
166
127
11
37
4
23
Jumlah
368
Sumber : Profil desa Kayang tahun 2012
Tabel diatas menggambarkan bahwa penduduk di desa Kayang memilki mata pencaharian yang cukup bervariasi, dengan perincian yakni bermata pencaharian sebagai petani berjumlah 166 orang, nelayan 127 orang, wiraswasta / pedagang 11 orang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) 37 orang, pensiunan PNS/TNI/POLRI 4 orang, dan buruh / tukang 23 orang.
Dari penjelasan tabel diatas , menunjukkan bahwa penduduk desa Kayang lebih banyak bermata pencaharian sebagai petani bila dibandingkan dengan jenis mata pencaharian yang lain.
c.       Keadaan Penduduk Desa Kayang Menurut Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan masyarakat. Dengan modal pendidikan yang dimiliki seseorang akan mampu mengelola segala potensi atau sumber daya alam yang ada disekelilingnya guna memenuhi kebutuhan hidup. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal yang dimiliki oleh warga masyarakat desa Kayang baik pada tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, pendidikan menengah atas maupun perguruan tinggi.
Untuk mengetahui lebih jelas keadaan penduduk desa Kayang menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 3
Keadaan Penduduk Desa Kayang Menurut Tingkat Pendidikan
No
Tingkat pendidikan
Jumlah (Orang)
1
2
3
4
5
6
Belum Sekolah
SD
SMP/SLTP
SMA/SLTA
Perguruan Tinggi (D1-D3 dan S1-S3)
Tidak Sekolah
134
388
86
63
48
21
Jumlah
740
Sumber : Profil desa Kayang tahun 2012
Tabel diatas menggambarkan bahwa penduduk desa Kayang berdasarkan tingkat pendidikan yaitu dengan perincian yaitu belum sekolah berjumlah 124 orang, berpendidikan SD berjumlah 388, berpendidikan SMP/SLTP berjumlah 86 orang, berpendidikan SMA/SLTA berjumlah 63 orang, berpendidikan perguruan tinggi berjumlah 41 orang, dan tidak sekolah berjumlah 38 orang.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa penduduk desa Kayang yang berpendidikan paling banyak yakni berpendidikan SD sebanyak 388 orang sedangkan yang paling sedikit yakni tidak sekolah / buta huruf sebanyak 38 orang.
d.      Keadaan Penduduk Desa Kayang Berdasarkan Agama / Kepercayaan
Negara Indonesia merupakan negara yang plural (majemuk). Kemajemukan Indonesia ini ditandai dengan adanya berbagai agama yang dianut oleh penduduk, suku bangsa, golongan, dan ras. Letak geografis Indonesia yang berada di tengah-tengah dua benua, menjadikan negara ini terdiri dari berbagai ras, suku bangsa, dan agama. Kemajemukan agama di Indonesia tidak terlepas dari perjalanan sejarah bagaimana bangsa Indonesia itu muncul. Hal tersebut ditandai dengan munculnya banyaknya kerajaan di Indonesia yang menganut bermacam agama. Tidak diragukan lagi, perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia itu mengakibatkan adanya beberapa agama yang dianut oleh bangsa Indonesia pada masa-masa selanjutnya.
Agama merupakan suatu keyakinan yang dianut oleh warga masyarakat, yang mengajarkan kepada manusia tentang nilai-nilai kehidupan, baik untuk kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat kelak. Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah makhluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur). Dengan demikian, maka pemerintah maupun warga masyarakat perlu bersama-sama menciptakan iklim atau suasana yang aman dan nyaman sehingga masyarakat atau umat beragama dapat menjalankan ibadah dengan tenang.
Untuk mengetahui keadaan penduduk masyarakat desa Kayang berdasarkan agama / kepercayaan yang dianut secara jelas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4
Keadaan Penduduk Desa Kayang Berdasarkan Agama/Kepercayaan
No
Agama/ Kepercayaan
Jumlah (Orang)
1
2
3
4
5
Islam
Kristen Protestan
Kristen Katholik
Hindu
Budha
738
12
-
-
-
Jumlah
740
Sumber : Profil desa Kayang tahun 2012
Tabel diatas menjelaskan bahwa mayoritas penduduk desa Kayang beragama Islam yakni berjumlah 738 orang, yang beragama Kristen Protestan sebanyak 12 orang yang tidak lain adalah pegawai kecamatan, pegawai kesehatan dan guru yang bertugas dan menetap di desa Kayang yang merupakan ibukota kecamatan Pantar Barat Laut. Sedangkan yang beragama Kristen Katholik, Hindu dan Budha tidak ada.
A.    TAHAP-TAHAP PELAKSANAAN TARIAN TRADISIONAL HADING HURI DALAM UPACARA ADAT PENYAMBUTAN TAMU TERHORMAT
Pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat terdapat berbagai prosesi atau tahap-tahap yang dilakukan atau dilewati guna tercapainya upacara penyambutan yang sesuai dengan tradisi masyarakat setempat. Prosesi atau tahap-tahap ini memiliki makna dan tujuan yang ingin disampaikan oleh masyarakat setempat yakni sebagai ucapan selamat datang dan penghargaan terhadap para tamu terhormat yang sudah meluangkan waktu untuk berkunjung di daerah mereka. Intisari dari prosesi atau tahap-tahap ini adalah proses penyambutan dengan menggunakan symbol kebudayaan mereka yaitu tarian tradisional hading huri.
Adapun prosesi atau tahap-tahap dari upacara penyambutan tamu terhormat ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Menunggu Di Pantai / Pelabuhan (Tedeng Lau Watang)
Prosesi atau tahapan yang pertama pada tarian Hading Huri dalam upacara adat penyambutan yang dilakukan sebelum para tamu terhormat tiba di lokasi penjemputan yaitu prosesi menunggu di pantai / pelabuhan (Tedeng Lau Watang). Sebagaimana  telah dijelaskan sebelum bahwa letak wilayah desa Kayang berada di pesisir maka setiap tamu yang datang berkunjung di wilayah ini menggunakan jalur laut. Prosesi ini dilakukan oleh para penari yang dilengkapi dengan peralatan / media yang digunakan seperti parang (Peda), tombak (Turaing), tambur (Bawa), gong, selempang/selendang, dan ikat kepala (Ganeba). Mereka telah bersedia untuk menyambut kedatangan para tamu terhormat. Selanjutnya para penari dan tetua adat, tokoh masyarakat, aparat pemerintah yakni kepala desa, kepala dusun dan lain-lain beserta seluruh warga masyarakat  bergerak menuju pelabuhan / pantai (Watang) untuk menuggu tibanya para tamu terhormat.
2.      Sapaan Adat Dari Pujangga Adat
Setelah para tamu terhormat tiba di lokasi penjemputan yaitu pelabuhan / pantai (Watang), prosesi atau tahapan selanjutnya yaitu sapaan adat oleh pujangga adat. Prosesi sapaan adat adalah tahapan penyampaian ucapan selamat datang kepada para tamu terhormat. Yang bertugas melakukan sapaan adat ini disampaikan oleh seseorang dari tokoh adat yang telah dipilih. Sapaan adat yang disampaikan oleh pujangga adat itu adalah sebagai berikut :
Hasil wawancara dengan bapak Muslimin Saka (tokoh adat) pada tanggal 10 April 2012, 16:00. Isi sapaan adat yang disampaikan oleh pujangga adat kepada para tamu terhormat yakni :
“Nehu larra kia, hama take nong larra-larra biasa atau larra wiang. Karena nehu larra kia ama-ama ata peng hire nong na’ang rombongan eti Kalabahi. We adang kia lawwo untuk pillo tite keadaan. We adang maring nong ratte pemerintah ra’ang program bantuan. Adang kia lawwo kia we rencana kaing.
Sekarang ama-ama ata peng hire sampe kia lawwo kaing. Atas nama masyarakat skali kia lawwo kame ucapkan selamat datang untuk ama hire. Bapak kepala desa Kayang, na’ng staf nong masyarakat skali we siap trima ama hire. Nehu kame sambut ama-ama hire pake tarian hading huri kain. Ama-ama hire, silakan tite pana tai kalli uling yang kame siap kaing”.
Artinya :
“Pada hari ini, tidak seperti hari-hari biasa dan hari-hari kemarin. Dalam hal ini bapak yang terhormat bersama staf dan rombongannya dari Kalabahi. Mereka ingin berkunjung dan melihat keadaan masyarakat di desa Kayang. Mereka datang untuk menyampaikan atau membawa suatu program pemerintah kepada masyarakat. Rencana tersebut sudah dijadwalkan oleh bapak yang terhormat beserta stafnya.
Sekarang bapak dan rombongan sudah tiba, atas nama seluruh masyarakat desa Kayang kami ucapkan selamat datang kepada bapak beserta staf dan rombongan. Bapak kepala desa bersama stafnya serta seluruh masyarakat desa Kayang siap menerima kedatangan bapak dan rombongannya. Bapak yang terhormat serta rombongan telah disambut dengan tarian tradisional Hading Huri. Sekarang bapak dan staf serta rombongan silakan berjalan menuju ke tempat yang telah kami siapkan”.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan lapangan diatas, dapat disimpulkan bahwa sapaan adat adalah suatu ungkapan bahasa kiasan yang disampaikan oleh pujangga adat kepada para tamu sebagai bentuk ucapan selamat datang dan penghargaan secara adat kepada para tamu terhormat karena masyarakat merasa senang dan gembira atas kedatangan para tamu terhormat beserta rombongan yang disambut dengan tarian tradisional hading huri melalui upacara adat penyambutan.
3.      Pengalungan Selempang/Selendang (Loge)
Setelah sapaan adat oleh pujangga adat tahapan selanjutnya yakni pengalungan selempang/selendang (Loge) kepada para tamu terhormat. Alat pengalungan yang disediakan yaitu selempang/selendang yang ditenun dengan hiasan berbagai motif. Yang bertugas melakukan pengalungan selempang/selendang (Loge) adalah seorang wanita yang dianggap memiliki kharisma dan telah dipilih sebelumnya. Prosesi pengalungan kepada para tamu terhormat merupakan suatu penghargaan kepada para tamu oleh masyarakat desa Kayang yang sudah berkenan mengunjungi desa mereka.
4.      Suguhan Makanan Dan Minuman Kepada Para Tamu Terhormat (Rakkang Renung)
Setelah prosesi penjemputan, sapaan adat dan pengalungan selempang/selendang (Loge) yang disertai dengan mengantar para tamu terhormat ke tempat yang telah di siapkan maka tahapan selanjutnya adalah penyuguhan makanan dan minuman (rakkang renung) kepada para tamu terhormat. Pada prosesi atau tahapan ini, sebelum para tamu menyantap hidangan terlebih dahulu disampaikan sapaan adat yang disampaikan oleh pujangga adat.isi sapaan adatnya adalah sebagai berikut :
Hasil wawancara dengan ibu Mahdia (Istri kepala suku Muko Bao) pada (tanggal 15 April 2012, 18:30) sapaan adat yang disampaikan saat penyuguhan makanan yaitu :
“Ama-ama hire, kame siap makanan nong minuman kaing, jadi sekarang tite hama-hama takka makanan yang hanya wata nong ikang nong kalolong kia. Ama-ama hire, silakan mi geng makanan sederhana yang kame siap kia”.
Artinya :
“Para bapak-bapak yang terhormat beserta rombongannya, kami telah menyiapkan makanan dan minuman yang seala kadarnya(sederhana). Sekarang saatnya kita bersama-sama menyantap hidangan yang berupa nasi, lauk dan sayuran ini. Bapak-bapak yang terhormat silakan menikmati hidangan yang kami sediakan ala kadarnya(sederhana) ini.”
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di lapangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa menyuguhkan makanan dan minuman kepada para tamu terhormat di anggap penting sebagai bentuk penghargaan kepada para tamu sehingga sebelum menyantap hidangan yang telah tersedia sebelumnya di awali dengan sapaan adat oleh pujangga adat.
Berdasarkan hasil pembahasan penelitian diatas tahapan atau prosesi yang dilakukan oleh masyarakat desa Kayang pada pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat dapat disimpulkan bahwa masyarakat desa Kayang melakukan prosesi atau tahapan tersebut diatas merupakan kebiasaan yang harus dilewati oleh masyarakat dengan tujuan sebagai penghargaan bagi siapa saja yang berkunjung, yang mempunyai niat yang baik dan ingin membangun dan menjalin rasa persaudaraan.
B.     ALAT ATAU MEDIA YANG DIGUNAKAN DALAM TARIAN TRADISIONAL HADING HURI PADA UPACARA ADAT PENYAMBUTAN TAMU TERHORMAT
Alat atau media merupakan perantara atau penghubung antara masyarakat setempat dengan para tamu terhormat dalam upacara penyambutan. Keberadaan alat atau media ini sangat penting untuk menunjang berlangsungnya dan suksesnya pelaksanaan tarian tradisional hading huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat. Alat atau media perantara ini memiliki fungsi masing-masing dalam pelaksanaan upacara penyambutan.
Berkaitan dengan pokok permasalahan diatas mengenai alat atau media apakah yang digunakan dalam pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri pada upacara adat penyambutan tamu terhormat, hasil temuan dilapangan yakni sebagai berikut :
Hasil wawancara dengan bapak Anwar (03 April 2012, 16:30) yaitu kepala suku Muko Bao. Alat atau media yang digunakan dalam tarian tradisional Hading Huri pada upacara penyambutan tamu terhormat yaitu :
“Bahwa dibutuhkan (1) Para penari, adapun pakaian adat dan alat atau media yang digunakan yaitu : Sarung tenun (Kawate), Selendang/selempang, ikat kepala (Ganeba), topeng, parang (Peda), tombak (Turaing). (2) Selendang/selempang yg terbuat dari sarung tenun dengan motif yg bermacam-macam, (3) Tambur (Bawa) yang terbuat dari kayu dan kulit kambing atau sapi, (4) Gong, (5) Ijuk sebagai pakaian untuk kepala suku (6) Sirih pinang (Ua Malu), (7) Tempat sirih pinang (Hoka Liling) (8) Tamu terhormat seperti Presiden, Gubernur, Bupati dan lain-lain ; dan (9) Masyarakat”.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dilapangan tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa alat atau media yang digunakan sebagai perantara atau penghubung diatas memiliki fungsi dan peran serta yang sangat penting dalam tarian tradisional Hading Huri. Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Para Penari Laki-Laki (Kalake)
Para penari laki-laki (Kalake) berjumlah sekurang-kurangnya tujuh orang yang terdiri atas enam orang penari dan satu orang yang berperan sebagai kepala suku. Para penari membentuk dua kelompok masing-masing tiga orang dengan rentang jarak yang cukup jauh. Sedangkan kepala suku mengambil tempatnya tersendiri dan berpisah dengan kedua kelompok penari tersebut. Para penari laki-laki (Kalake) akan melakukan gerakan menari setelah musik pengiring yang berupa tambur (Bawa) dan gong mulai ditabuh. Mereka melakukan gerakan menari dengan menghentak-hentakkan kaki ke tanah dan sesekali berputar sambil mengacungkan parang (Peda) dan tombak (Turaing) secara berhadapan dengan seorang penari dari kelompok lain.
2.      Para Tamu Terhormat
Adalah orang-orang terhormat beserta rombongan yang berkunjung seperti Presiden, Gubernur, Bupati dan lain-lain yang melakukan kunjungan baik kunjungan itu bersifat politis, membawa program / paket bantuan, ataupun sekedar mengunjungi saja. Makna bagi masyarakat setempat merupakan suatu kehormatan yang sangat tinggi karena telah dikunjungi oleh para tamu terhormat yang telah disebutkan diatas.
3.      Masyarakat
Adalah seluruh masyarakat desa Kayang, baik dari aparatur pemerintah seperti kepala desa beserta stafnya maupun masyarakat awam seperti kepala adat, tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh masyarakat dan masyarakat biasa. Fungsinya untuk melakukan acara penyambutan terhadap para tamu yang berkunjung dengan melakukan upacara penyambutan.
4.      Selempang/Selendang
Selendang/selempang adalah alat atau benda yang terbuat dari kain yang di tenun dengan berbagai motif dan warna yang bermacam-macam. Fungsinya sebagai penghargaan atau hadiah dari masyarakat desa Kayang kepada para tamu yang diwujudkan dengan mengalungkan pada leher para tamu. Selempang/selendang ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat setempat dan merupakan ciri khas dari kebudayaan kesenian daerah setempat.
5.      Parang (Peda)
Parang (Peda) adalah sebuah alat yang terbuat dari besi yang digunakan oleh penari pada saat pelasanaan tarian tradisional Hading Huri dalam upacara penyambutan tamu terhormat. Fungsinya sebagai lambang dari keperkasaan dan kekuatan laki-laki (Kalake) dalam melindungi dan menjaga semua milik mereka dari gangguan orang/musuh.
6.      Tombak (Turaing)
Tombak adalah senjata tajam dan runcing terbuat dari besi, bermata dua, dan bertangkai panjang terbuat dari kayu untuk menusuk dari jarak dekat atau jauh dengan cara melemparkan. Fungsinya adalah sebagai senjata pelengkap selain parang (Peda) yang digunakan oleh para penari selama pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri.
7.      Tambur (bawa)
Tambur (Bawa) adalah alat musik yang terbuat dari kayu dan kulit kambing, rusa ataupun sapi. Fungsinya adalah sebagai musik pengiring selama pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri. Tambur (Bawa) merupakan alat musik tradisional yang ada sejak jaman nenek moyang dan diperbaharui hingga sekarang untuk digunakan sebagai pelengkap dalam berbagai  kesenian daerah.
8.      Gong
Gong adalah alat musik yang terbuat dari logam atau perunggu. Fungsinya adalah sebagai alat musik pengiring selama berlangsungnya tarian tradisional Hading Huri. Gong juga sering digunakan sebagai alat musik pelengkap dalam berbagai kesenian daerah seperti lego-lego dan lain sebagainya.
9.      Ikat Kepala (Ganeba)
Ikat kepala (Ganeba) adalah alat yang terbuat dari daun lontar  yang kedua ujungnya diikat, dan bagian tengahnya dibiarkan untuk dipasang pada kepala para penari. Ukuran alat ini tergantung pada bentuk dan ukuran kepala para penari.
10.  Tempat Sirih Pinang (Hoka Liling)
Tempat sirih pinang (Hoka Liling) yaitu anyaman yang terbuat dari daun lontar yang berfungsi untuk menyimpan sirih pinang. Selama pelaksanaan tarian tradisional , tempat sirih pinang (Hoka Liling) ini hanya dibawa oleh kepala suku. Bentuknya bermacam-macam tergantung keinginan orang yang menganyam.
11.  Sirih pinang (Ua Malu)
Adalah makanan tradisional masyarakat Alor pada umumnya dan masyarakat desa Kayang pada khususnya yang terdiri dari buah siri dan buah pinang dan kapur yang disimpan di tempat tersendiri yang disebut Suppu. Sirih pinang merupakan lambang persahabatan dari masyarakat Alor pada umumnya dan masyarakat desa Kayang pada khususnya terhadap tamu asing sesama masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Fungsinya sebagai penghargaan pertama yang diberikan masyarakat desa Kayang kepada para tamu.
12.  Topeng
Topeng adalah benda dari kertas, kayu, plastik, atau kain, yang dipakai untuk menutup wajah seseorang. Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan manusia. Pada sebagian besar masyarakat, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan, karena menyimpan nilai-nilai magis. Peranan topeng sangat besar sebagai simbol-simbol khusus dalam berbagai upacara dan kegiatan adat.
Wujud topeng yang diekspresikan oleh manusia pada awalnya adalah untuk upacara keagamaan, dan kemudian diekspresikan juga melalui bentuk atraksi untuk menyertai berbagai ritual tertentu. Bentuk topeng bermacam-macam, hal ini disebabkan oleh perilaku adaptif dari manusia yang mengimitasi berbagai objek, misalnya menggambarkan binatang dalam bentuk atraksi ritual ‘perburuan’, menggambarkan roh-roh atau makhluk-makhluk tertentu. Pada perkembangannya, topeng lebih sepesifik juga menggambarkan watak manusia, dan tempramental emosionalnya, seperti: marah, ada yang lembut, dan adapula yang bijaksana.
13.  Sarung Tenun (Kawate)
Sarung tenun (Kawate) adalah sarung tenun yang dibuat dengan cara ditenun dengan alat tenun bukan mesin yang terbuat dari kayu. Membuat sarung tenun dengan alat tenun bukan mesin membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi. Untuk menyelesaikan selembar sarung tenun, membutuhkan waktu berminggu-minggu. Fungsinya adalah untuk digunakan sebagai pelengkap pakaian adat yang dikenakan oleh para penari, bisa juga dipakai sebagai pakaian sehari-hari maupun dikenakan saat beribadah. Sarung juga dipakai sebagai selimut, dan biasa juga dikenakan oleh wanita.
14.  Ijuk
Ijuk yaitu serabut pada pangkal atau pelepah pohon enau. Fungsinya adalah sebagai pelengkap pakaian yang hanya dipakai oleh kepala suku selain sarung tenun (Kawate) dan selempang/selendang.
C.    MAKNA TARIAN TRADISIONAL HADING HARI DALAM UPACARA ADAT PENYAMBUTAN TAMU TERHORMAT.
Khasanah budaya dari masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri dan bermakna pula bagi penganut budaya tersebut saja. Peranan kesenian tradisional sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai acara yang ada dalam kehidupan manusia memanfaatkan tarian tradisional untuk mendukung prosesi acara kepentingannya. Masyarakat membutuhkannya bukan saja sebagai kepuasan estetis saja, melainkan juga untuk keperluan upacara agama dan adat.
Dalam budaya kesenian masyarakat desa Kayang, tarian tradisional Hading Huri merupakan simbol penyampaian perilaku-perilaku kehidupan dalam kebudayaan dengan tujuan memberikan penghargaan bagi siapa saja yang mereka anggap memiliki status kehidupan lebih tinggi yang dituangkan atau dilakukan melalui berbagai acara-acara adat. Tarian tradisional Hading Huri ini memiliki makna yang begitu penting dalam kehidupan berbudaya mereka. Kebiasaan-kebiasaan membawakan tarian tradisional hading huri bagi masyarakat desa Kayang selalu di implementasikan dalam setiap upacara-upacara penting seperti upacara penyambutan tamu-tamu terhormat, upacara keagamaan, upacara syukuran dan lain sebagainya. Tarian tradisional Hading Huri merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat desa Kayang maka sepatutnya setiap warga masyarakat harus menjaga, melindungi dan melestarikan kebudayaan khususnya tarian tradisional Hading Huri dari nenek moyang tersebut.
Berkaitan dengan pokok permsalahan dan tujuan dari penelitian diatas mengenai makna tarian tradisional Hading Huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat, peneliti melakukan wawancara dengan informan yang dianggap mengetahui pokok permasalahan diatas, peneliti menemukan beberapa makna yang terkandung dalam tarian tradisional Hading Huri yaitu sebagai berikut :
Hasil wawancara dengan Bapak Anwar (kepala suku MukoBao) pada (Tanggal 01 April 2012, 20:00) berdasarkan tujuan dari penelitian diatas mengatakan :
“Tarian tradisional Hading Huri merupakan tarian yang dilakukan untuk mengingatkan kembali akan sebuah tragedi atau peristiwa yang terjadi pada jaman dahulu, yaitu pertikaian yang berakhir dengan peperangan antara dua orang bersaudara yaitu Jalla Ga’ung dan Nali Ga’ung karena merebutkan sebidang tanah.
Tarian tradisional Hading Huri ini mulai di tarikan pada tahun 1963. Pada awalnya tarian ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari suku Muko Bao. Kemudian seiring berjalannya waktu dan perkembangan penduduk di desa Kayang yang semakin heterogen dengan bertambahnya suku-suku lain yang datang dan menetap di desa Kayang. Untuk menciptakan suasana hidup yang rukun dan damai dalam keberagaman (heterogen) tersebut maka suku Muko Bao sebagai suku pemilik tarian tradisional Hading Huri memberikan kesempatan kepada orang-orang dari suku lain untuk ikut bergabung dalam tarian tradisional ini.
Tarian tradisional Hading Huri ini mulai digunakan untuk menyambut para tamu terhormat pada tahun 1971 ketika bupati Alor pada saat itu Umbu Dicky mengunjungi desa Kayang. Tarian ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dari masyarakat desa Kayang atas kedatangan para tamu terhormat yang mengunjungi desa mereka. Selain itu tarian tradisional Hading Huri juga merupakan salah satu wujud dari sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain yang ditujukan melalui ucapan selamat datang dengan sapaan adat dan pengalungan selempang/selendang (Loge). Tarian tradisional Hading Huri yang dilakukan dalam upacara adat penyambutan juga merupakan wujud dari rasa persatuan dan kesatuan antara masyarakat desa Kayang yang heterogen dan para tamu terhormat agar bisa menjaga, melindungi, dan membangun desa Kayang menjadi desa yang maju dan mandiri”.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan lapangan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam proses penyambutan tamu terhormat yang dilakukan oleh masyarakat desa Kayang kepada tamu terhormat dengan melakukan upacara penyambutan yang dijelaskan pada pokok-pokok terdahulu diatas mengandung beberapa makna yang ingin disampaikan dan ditunjukkan oleh masyarakat kepada para tamu terhormat yaitu sebagai berikut :
1.      Ucapan Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Masyarakat Alor pada umumnya dan desa Kayang pada khususnya adalah salah satu dari etnis yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki kultural terhadap agama dan kepercayaan kepada Tuhan sangat kental dan mendalam. Sikap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang ditanamkan oleh orang-orang tua kepada generasi muda penerus ditunjukkan melalui kegiatan-kegiatan upacara adat. Berbagai upacara dan prosesi adat dilakukan sebagai persembahan kepada sang pencipta yang telah memberikan mereka umur yang panjang, rejeki dan kehidupan yang tentram dan damai.
Dalam berbagai pelaksanaan upacara adat sikap yang paling utama mereka ingin sampaikan adalah sikap selalu mensyukuri apa yang telah diberikan sang pencipta. Mereka percaya bahwa jika mereka bersyukur atas semua pemberian-Nya maka Tuhan akan memberkahi kehidupan. Motivasi inilah yang menjadi pegangan para orang tua dan generasi muda penerus setempat apabila melakukan kegiatan-kegiatan upacara adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Penggunaan tarian tradisional Hading Huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat yang dilakukan oleh masyarakat setempat adalah tradisi adat yang harus dalam pelaksanaan penjemputan bagi para tamu yang dianggap penting dan memiliki status yang tinggi. Upacara penyambutan terhadap para terhormat ini dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena dengan ijin-Nyalah para tamu terhormat bisa datang dan meluangkan waktu untuk melihat keadaan daerah mereka dengan harapan membawa perubahan yang lebih baik kedepannya terhadap perkembangan pembangunan daerah dan kehidupan masyarakat setempat.
2.      Menghormati dan Menghargai Satu Sama Lain
Sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara setiap masyarakat dituntut untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Seiring perkembangan jaman, perubahan dalam sikap dan perilaku manusia berubah pula, sehingga banyak masyarakat lupa kepada kebiasaan-kebiasaan saling menhormati dan menghargai antar sesama yang seharusnya dalam bentuk perilaku maupun simbol-simbol kebudayaan suatu daerah.
Sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain dalam kehidupan masyarakat Alor dan desa Kayang pada khususnya merupakan sikap dan perilaku yang sangat penting yang ditunjukkan dalam berinteraksi dengan masyarakat luar. Sikap dan perilaku tersebut ditunjukkan melalui pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat. Tradisi masyarakat Alor dan desa Kayang pada khususnya dalam rangkaian pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri tersebut dengan melakukan berbagai prosesi atau tahapan kegiatan adalah wujud dari sikap dan perilaku yang ingin ditunjukkan masyarakat kepada para tamu sebagai sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri melalui prosesi sapaan adat yang disampaikan oleh pujangga adat yang berupa ucapan selamat datang kepada para tamu terhormat menunjukkan bahwa masyarakat setempat ingin menunjukkan dan menyampaikan bentuk sikap menghormati dan menghargai atas kedatangan para tamu. Prosesi pengalungan selempang/selendang (Loge) dilakukan untuk memberikan penghormatan dan penghargaan bahwa inilah bentuk tradisi untuk mengucapkan rasa terima kasih masyarakat kepada para tamu. Prosesi penyuguhan makanan dan minuman (Rakkang Renung) kepada para tamu merupakan bagian dari suatu tradisi untuk menghormati dan menghargai para tamu sebagai bukti bahwa inilah hasil dari alam mereka yang bisa dinikmati oleh siapa saja.
3.      Menjalin Rasa Persatuan Dan Kesatuan
Kembali kepada awal mula terciptanya tarian tradisional Hading Huri yaitu pertikaian yang berlanjut pada peperangan antara dua orang bersaudara kemudian muncullah kepala suku untuk mendamaikan mereka. Maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pelaksanaan tarian tradisional Hading Huri dalam upacara adat penyambutan tamu terhormat pada masyarakat desa Kayang bahwa mereka ingin menunjukkan agar kita harus selalu hidup bersaudara dan bersama. Sikap tersebut terlihat jelas pada tahapan-tahapan dan alat atau media yang digunakan pada tarian tradisional Hading Huri dalam upacara penyambutan. Dalam tahapan sapaan adat yang berupa ucapan selamat datang kepada para tamu terhormat bisa terjalin rasa persatuan dan kesatuan guna membangun daerah ke depannya menjadi maju dan mandiri.
Prosesi atau tahapan pengalungan selempang/selendang (Loge) terhadap para tamu terhormat merupakan pemberian penghargaan kepada para tamu sebagai bukti bahwa inilah kebiasaan masyarakat setempat untuk mempererat hubungan persaudaraan antar sesama. Prosesi atau tahapan selanjutnya yaitu penyuguhan makanan dan minuman (rakkang renung) merupakan sikap masyarakat Alor dan desa Kayang khususnya menunjukkan bahwa dengan mencicipi hasil alam dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan , mempererat tali persaudaraan serta saling menghargai dan menghormati antara masyarakat dan para tamu yang berkunjung di daerah mereka
Share this article :

Galery Kepala Desa Kayang Marica

Galery Kepala Desa Kayang Marica
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MARICA DESA KAYANG ALOR NTT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger